KH Ali Djaya: Industrialisasi itu Datangnya Dari Allah

Oleh : Ahmad Yusdi

Saat mempertahankan disertasinya, Tubagus Iman Ariyadi menunjukan temuan kajiannya: betapa peran kiai di Banten yang merupakan elit tradisional memiliki kekuasaan kharismatik. Menurutnya, kekuasaan kiai dipengaruhi lima faktor pendorong, yakni: faktor persepsi teologis, faktor dominasi subkultur jawara, faktor politik, faktor historis dan ideologi, faktor kekerabatan dan hubungan guru-murid, serta faktor penarik kepentingan pragmatis-oportunis para kiai.

Disertasi yang diberi judul “Peran Kiai Dalam Pemilihan Gubernur Propinsi Banten Tahun 2011” itu  sukses menghantarkan Iman Ariyadi meraih gelar doktor ke enam puluh di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.

Disertasi yang mengetengahkan peran kiai dalam sosial politik hubungan kemasyarakatan Banten itu banyak diapresiasi di kalangan akademisi tanah air.

Peran kiai, dipandang dari aspek kultural dan politik, memiliki kedudukan sangat terhormat dalam hubungan dengan masyarakat. Pesantren dan tarekat adalah dua lembaga wajib yang dimiliki kiai dalam kedudukannya itu. Nampaknya pendekatan model inilah yang digunakan Orde Baru saat mencanangkan pembangunan PT Krakatau Steel di tahun 1970-an.

Presiden Soeharto melakukan pendekatan intensif dengan pesantren dan para kiai di Cilegon ketika akan melanjutkan proyek yang dulunya bernama Proyek Besi Baja Trikora itu. Indonesia sangat membutuhkan pabrik baja sebagai dasar industri nasional yang tangguh. Dan pesantren yang bersinggungan langsung dengan rencana pembangunan pabrik baja itu adalah Al-Khairiyah.

Foto : KH. Ali Djaya Bersama Mentri Agama Alamsyah Prawiranegar

Di awal didirikannya oleh KH Syamun pada 25 Mei 1925, Al-Khairiyah hanyalah sebuah pondok pesantren sederhana yang berada di Kampung Citangkil, Desa Warna Sari. Baru kemudian ketika pengelolaannya ditangani bersama muridnya, KH Ali Jaya, Al-Khairiyah kemudian menjadi sebuah lembaga pendidikan Islam modern.

Dr Maftuh, dalam desertasi memperoleh gelar Doktor Bidang Ilmu Agama Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, menyebutkan: salah satu pendidikan Islam yang berkontribusi besar terhadap perkembangan Islam masyarakat Banten adalah perguruan Islam Al-Khaeriyah. Al-Khaeriyah tercacat sebagai lembaga pendidikan Islam termodern pertama di Banten, bahkan se-Indonesia.

Rencana Soeharto akan mendirikan industri baja dengan harus menggusur keberadaan lembaga pendidikan Islam itu tentu saja mendapat reaksi dari para kiai Al-Khairiyah dan masyarakat Cilegon. Masyarakat khawatir berdirinya Krakatau Steel akan menggusur juga nilai-nilai religius yang sudah tertanam kuat di dalamnya. Tak kurang, Menteri Agama saat itu Alamsyah Ratu Perwiranegara diutus langsung oleh presiden guna menemui KH Ali Jaya. (H Tatang Muftadi SE, “Kearifan Lokal Bukan Primordial.”)

Barulah setelah terjadi kesepakatan antara pemerintah dan kiai, masyarakat Cilegon akhirnya dengan lapang dada merelakan tanahnya demi pembangunan pabrik baja tersebut. Luas area tanah yang dibutuhkan guna pembangunan PT Krakatau Steel adalah 1588,10 hektar. Desa-desa yang terkena pembebasan antara lain: Tegal Ratu 212,465 Ha, Kubang Sari 194,240 Ha, Samang Raya 226,172 Ha, Warnasari, 565,190 Ha (bedol desa), Kebondalem 4,824 Ha, Kotabumi 147,800 Ha, Grogol 53,660 Ha, Ramanuju 18,010 Ha, Kotasari 29,203 Ha, Kepuh 87,919 Ha, dan Randakari 8,620 Ha. (Sumber: SK Gubernur Jawa Barat Nomor 62/A./2/73)

Apa bunyi kesepakatan antara pemerintah dan kiai itu sehingga masyarakat Cilegon dengan kerelaan mau menyerahkan tanahnya?

Dalam pidatonya saat itu, Alamsyah Ratu Perwiranegara yang mewakili pemerintah pusat berjanji akan mengutamakan kesejahteraan masyarakat Cilegon melalui perekrutan tenaga kerjanya. Kemudian, Alamsyah juga berjanji bahwa keberadaan industrialisasi tidak akan menggusur nilai-nilai kultur islami yang ada dengan mengutamakan pembangunan sarana pendidikan Islam di Cilegon.

Sedangkan KH Ali Jaya sendiri berkata: “Islam tak bisa menolak industrialisasi dan kemajuan zaman. Kemajuan zaman datangnya dari Allah, bukan dari Barat atau pun Timur….”