Pidato Memilukan AH Nasution Pada HUT TNI 1965

Oleh : Ahmad Yusdi

Dengan suara terbata-bata dan sesekali menitikan air mata, Jenderal Besar Abdul Haris Nasution membacakan pidatonya pada HUT TNI 5 Oktober 1965. Peringatan HUT saat itu tidak seperti biasanya, karena pada saat bersamaan berlangsung juga pelepasan jenazah para jenderal yang dibunuh pada peristiwa Gerakan 30 September atau yang lebih dikenal dengan sebutan G30S/PKI.

“Fitnah, fitnah, berkali kali fitnah lebih jahat dari pembunuhan, lebih jahat dari pembunuhan, kita semua difitnah, dan saudara-saudara telah dibunuh, kita diperlakukan demikian…,” demikian pidato AH Nasution yang disampaikan sebelum pemakaman berlangsung di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. 

AH Nasution yang saat itu menjabat Menteri Keamanan Nasional dan Wakil Panglima Besar Komando Tertinggi berhasil selamat dari sasaran pembunuhan G30S/PKI. Namun, putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudannya, Lettu Pierre Tendean, menjadi korban pada peristiwa itu.

Koresponden BBC untuk Asia Tenggara, Jonathan Head, mencatat:  Pada dini hari 1 Oktober 1965, tujuh kesatuan unit militer bergerak di Jakarta menuju rumah 7 jenderal paling senior di angkatan bersenjata.  3 jenderal dibunuh dan 3 lainnya ditangkap. Sedangkan Abdul Haris Nasution berhasil lolos, meski anak perempuannya yang berusia lima tahun, Ade Irma Suryani, tewas tertembak. Tiga jenderal yang ditangkap kemudian dibawa ke markas udara di selatan Jakarta dan dibunuh. Jenazah mereka yang dimutilasi kemudian dibuang ke sumur.

Head yang bekerja di sebuah lembaga hak asasi manusia Indonesia berkantor di London dalam artikelnya menulis, insiden ini kemudian mengubah arah sejarah modern Indonesia, bahkan Asia. Memicu pembunuhan massal terburuk pada abad 20, menghabisi partai komunis terbesar ketiga di dunia, dan memunculkan seorang jenderal yang kemudian menguasai Indonesia selama tiga dekade ke depan, serta menempatkan Indonesia di orbit Amerika Serikat pada Perang Dingin.

Gerakan 30 September 1965 belum dipahami sepenuhnya oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Para aktor serta motif di belakang gerakan tersebut hingga kini masih belum jelas. Namun, peristiwa mengerikan tersebut masih menghantui masyarakat Indonesia sampai sekarang. Jutaan keluarga mengalami trauma dari pembunuhan massal dan pemenjaraan yang membabi-buta.

Pasca peristiwa, setiap tahunnya saluran televisi nasional memutar film “Pengkhianatan G30S/PKI” yang menunjukkan versi resmi Soeharto selaku pemenang atas peristiwa tersebut. Narasi yang dipertontonkan menunjukkan bahwa pelaku upaya perebutan kekuasaan adalah aksi Partai Komunis Indonesia. Dalam film itu ditampilkan kader partai PKI sebagai manusia-manusia kejam yang melakukan penyiksaan terhadap enam jenderal dan seorang letnan.

Di tahun 1965, Indonesia berada pada ketegangan tingkat tinggi. Sistem parlemen yang disusun semenjak 1959 diganti menjadi kepemimpinan tunggal Presiden Soekarno melahirkan pemberontakan dan percobaan perebutan kekuasaan. Meski berhasil dipadamkan, namun Indonesia terus berada dalam situasi konflik.

Saat itu, sementara Indonesia tengah berjuang mendapatkan Papua yang dikuasai Belanda, sisi lain juga harus berhadapan dengan Inggris dalam federasi Malaysia yang baru terbentuk. Dan dalam keadaan tengah berkonflik, miskin dan ekonominya nyaris hancur, Soekarno malah menyampaikan retorika melawan imperialisme Amerika Serikat dan membawa Indonesia keluar dari PBB.

Keadaan seperti ini dimanfaatkan oleh PKI yang memiliki kurang lebih 3 juta anggota dan 20 juta simpatisan guna meraih pengaruh lebih besar dari Soekarno. Dalam rangka meraih dukungan rakyat guna meningkatkan kekuasaannya di Jawa, PKI mempromosikan redistribusi lahan untuk rakyat. Kadang PKI secara keras menganjurkan merampas tanah, dan biasanya terhadap pemilik lahan muslim yang taat.

Tentara, yang sudah menikmati pelatihan dari Amerika Serikat dan mendapat peran penting dalam berbagai industri negara, menjadi rival utama PKI sejak kemerdekaan pada 1945. Tentara melihat PKI sebagai ancaman, terutama dalam upaya meraih pengaruh di kalangan perwira. Seiring semakin memburuknya kesehatan Presiden Soekarno, perebutan kekuasaan pun nampak tak terelakkan lagi.

Badan Intelijen Luar Negeri Amerika Serikat, CIA, membuka arsip memo singkat harian untuk presiden periode 1961-1965. Surat kabar the Washington Post melaporkan arsip-arsip mengenai upaya kudeta di Indonesia yang selama ini disebut-sebut didalangi politbiro PKI. Ada 19 ribu halaman memo harian CIA yang merujuk kepada UU AS, dimana harus dibuka pada publik karena status rahasia negaranya telah kedaluwarsa.

Terkait informasi soal gerakan 30 September di Indonesia, CIA tidak pernah secara terbuka mengaku terlibat. Dalam memo-memo itu, intelijen AS melaporkan bahwa aktor utama konflik adalah faksi militer pimpinan Soeharto serta perwira yang loyal pada PKI. Dalam salah satu paragraf memo tentang Gerakan 30 September 1965, CIA menyatakan: “Partai Komunis bersiap bentrok dengan tentara dalam beberapa hari mendatang. Sebaliknya, faksi di militer terus mencari celah melemahkan kekuatan PKI.”

CIA hanya memberi rekomendasi kepada Presiden Lyndon B. Johnson agar menunggu pemenang pertarungan politik: “Situasi Indonesia sementara ini membingungkan. Tidak ada hasil yang pasti untuk perubahan politik. Belum ada jawaban tentang adakah peran Soekarno di dalamnya. Dua pihak yang bergerak sama-sama mengklaim setia kepada presiden.” Sikap AS yang di kemudian hari melapangkan jalan bagi rezim Orde Baru

Beberapa sejarawan meyakini peristiwa 30 September 1965 adalah manuver politik terkait perang dingin. Sikap Soekarno yang mulai merapat ke Uni Soviet setidaknya membuat CIA khawatir. Teori keterlibatan AS itu setidaknya diulas oleh sejarawan Petrik Matanasi, penulis buku “Untung, Cakrabirawa dan G30S.” Bahwa, sasaran penculikan adalah Jenderal yang bertugas di Staf Umum Angkatan Darat (SUAD) yang merupakan tokoh penting menentukan arah perkembangan Angkatan Darat. Kolonel Untung, aktor utama G30S, menganggap jenderal-jenderal seperti Ahmad Yani tidak loyal kepada Bung Karno dan dekat dengan Amerika Serikat. Semua anggota pasukan Untung di bawah pimpinan Dul Arief cukup percaya dengan wacana ini.

Gerakan pasukan ini yang kemudian diserang balik oleh komando militer di bawah pimpinan Soeharto, sebagai pemimpin Kostrad. Setelah drama penculikan jenderal berakhir, Soeharto secara de facto menguasai pemerintahan. Tragedi 1965 berakhir menyedihkan karena setidaknya satu juta warga sipil di pelbagai provinsi yang dituding anggota atau bersimpati pada PKI dibantai dalam periode 18 bulan saja. Ratusan orang dipenjara tanpa pengadilan. Pelanggaran HAM berat itu sampai sekarang tidak pernah terselesaikan.

Setiap tahunnya, semakin sedikit orang-orang yang bisa menceritakan tragedi pembunuhan itu bisa bersaksi. Waktu hampir habis untuk mengumpulkan sejarah lengkap tentang peristiwa mengerikan itu. Agar kita bisa berdamai dengan hantu sejarah kelam bangsa ini.