Terompet Bandrong Yang Melegenda

Suara Terompet meliuk-liuk sering kita dengar dari kejauhan dan bunyinya khas nyaring, itulah suara terompet yang selalu mengiringi acara-acara padepokan-padepokan diwilayah Kota Cilegon dan serang sering kita jumpai pada iring-iringan pengantin mempelai pria maupun wanita. Sudah membudaya sejak dahulu kesenian patingtung, kembang kalangan selalui di iringi terompet tersebut, ada yang isitimewa dari terompet ini diantaranya tidak dijual bebas di pasaran karena dibuat oleh pelaku seniman terompet bandrong karena bahan yang dibuatpun hari dicari dari bahan kayu yang kuat untuk mendapatkan kualitas suaranya yang nyaring dan merdu, selain kayu untung batang terompet ada beberapa bahan tambahan untuk corong dari kuningan, pepurus atau tempat kepala terompet yang menghasilkan suara jika ditiup serta angkup yang dibuat manual untuk suara khas yang ditiup oleh seniman terompet bandrong. Kena kami menyebutnya terompet bandrong, karena terompet ini sering mengiringi acara gembrung dan pementasan silat khususnya aliran bandrong, keberadaan terompet ini diperkirakan sudah ada pada abad 15an yang sudah ada pada zaman kesultanan maulana hasanudin sesuai benda cagar budaya serta peralatan patingtung yang dipajang di museum purbakala banten lama.

Untuk bisa memainkan dan menggunakan terompet ini tidak beda jauh menggunakan nada seruling, hanya saja harus berlatih kepada guru terompet agar bisa ngelamus dan menghafalkan lagu-lagu yang akan digunakan pada saat pementasan silat bandrong. Ngelamus sendiri adalah beralatih pernapasan meniup terompet agar napas kuat dan tidak berhenti saat meniup terompet ini, ada dua macam terompet bandrong antara lain terompet yang berlubang tujuh dan berlubang enam. Untuk kualitas suara tidak beda jauh tergantung seniman terompet yang meniupnya dan jam terbang dalam meniup terompet tersebut.

Muhtar salah satu pelestari terompet bandrong yang masih tetap melestarikan terompet tersebut selalu setia mengiringi acara-acara gembrung silat bandrong, baik acara hiburan untuk malam kocekan atau malam sebelum hajat nikahan yang hiburannya mengundang padepokan-padepokan bandrong untuk mengisi acara hiburan malamnya yaitu acara gembrung dan kembang kalangan serta debus. Di usianya yang ke 31 tahun muhtar tetap melanglang buana ke tiap padepokan bandrong di Kota Cilegon dan serang, beliau belajar nerompet kapada gurunya bapak rahmat di padepokan jurus garuda di kampung gerem kagungan. Berkat kepiawaian beliau dalam memainkan lagu-lagu melalui terompet bandrongnya muhtar juga sempat mewakili dinas pariwisata Kota Cilegon dalam ajang pementasan di bali serta bandung.(Jawara_Bandrong)